Alkisah riwayat ilmu Kulhu Sungsang ini lahir ketika jaman wali
songo. Saat itu pengaruh hal-hal yang bersifat ghaib sangat kental
dikehidupan masyarakat Jawa (kejadiannya tepatnya didaerah Jawa Timur –
menurut penelitian saya). Makhluk halus sangat diagung-agungkan,
hingga seolah-olah manusia dibawah kendali para JIN. Akhirnya
terjadilah berbagai macam bentuk pemujaan yang dilakukan masyarakat
kepada makhluk halus, karena begitu takutnya dengan pengaruh ghaib ini.
Kemudian
muncullah salah satu tokoh dari Wali Songo. Ada yang meriwayatkan
beliau adalah Sunan Ampel, tapi ada juga yang mengkisahkan beliau
adalah Sunan Bonang (putra Sunan Ampel). Yang bermaksud menghentikan
semua ulah para makhluk halus tersebut. Singkat cerita lalu terjadilah
peperangan antara Sunan dengan Panglima JIN yang menguasai tanah Jawa.
Dan dimenangkan oleh sang Sunan. Ilmu yg digunakan oleh Sunan adalah
berlandaskan ilmu Tauhid (mengesakan Tuhan – Surat Al Ikhlas). Kemudian
dibuatlah semacam perjanjian yang intinya adalah bila ada anak turun
Sunan yang membaca potongan Qulhu (yang kemudian dikenal sbg macam-macam
ajian KULHU) maka para Jin dan kawan-kawannya di tanah Jawa harus
segera menghentikan seluruh aktivitasnya mengganggu orang tersebut.
Maka sejak saat itulah ilmu Kulhu Sungsang dikenal sebagai ilmu yg efektif untuk mengusir Jin, khususnya di tanah Jawa ini.
Makna ILMU KULHU SUNGSANG
“Kulhu Sungsang, Rajah Iman, Kudungku malaikat Jibril, Tekenku Nabi Muhammad Rasuulullah Shollallahu ngalaihi wasallam.”
“Kulhu
Sungsang” merupakan bacaan niat sebagai penekanan Sugesti diri sebelum
membaca keseluruhan ajian Kulhu Sungsang ini. Seperti halnya dalam
ajian-ajian lain, misalnya diawali membaca “Sun Amatek Aji…” atau “Niat
Ingsun matek ajiku…” dan sejenisnya.
Disini makna dari “kulhu
sungsang” adalah ilmu gaib yang mengakibatkan segala bentuk kejahatan
magis seperti santet, semakin terhijab (tertutup) dan terjungkir
sasarannya dari orang yang hendak dituju. Artinya ilmu Kulhu Sungsang
sejatinya bukan untuk mengembalikan santet agar berbalik menghantam
kepada orang yang menyantet. Tidak seperti yang telah dipahami
masyarakat selama ini. Jika ingin bermaksud mengembalikan santet, maka
ada ilmu tersendiri yaitu KULHU BALIK atau lebih dikenal dengan sebutan
Aji TanggulBalik.
“Rajah Iman”: Rajah bisa diartikan
tulisan-tulisan yang dijadikan sebagai piranti / prasarana / media
dalam ilmu-ilmu gaib. Jadi “rajah iman” bermakna: yang dijadikan
sebagai piranti gaib dari sang pemilik ilmu Kulhu Sungsang adalah IMAN.
Keimanan kepada siapa? Tentunya kepada Gusti Allah SWT. Karena pada
hakekatnya “tiada daya dan kekuatan kecuali pada Allah”. Tapi daya dan
kekuatan itu telah dijadikan kodrat bagi makhluk-NYA. Dan seperti kita
ketahui, makhluk-makhlukNYA (malaikat, jin, manusia, bahkan alam
semesta) mewujudkan daya dan kekuatan dari Tuhan itu dalam bentuk yang
berbeda-beda.
Daya-daya siapa sajakah yang dihadirkan dalam ilmu
Kulhu Sungsang ini? Maka diterangkan dalam rapal mantera berikutnya,
dengan bacaan: “kudungku Malaikat Jibril”.
“Kudung” atau bahasa
lainnya “kerudung” adalah sesuatu yang digunakan untuk menyelimuti
bagian badan (biasanya dipakai dikepala). Disini penggunaan kata
“kudung” lebih berarti menyelimuti seluruh badan sang pemilik ilmu Kulhu
Sungsang. Jadi bukan menyelimuti sebagian badan atau kepala saja, tapi
seluruhnya. Hal ini sesuai dengan budaya bahasa mantera di Jawa.
Tengoklah seperti dalam Ajian WEWE PUTIH yang berbunyi: “…kudungono mego
mendhong cat tan katon…” Ajian Wewe Putih adalah ajian yang membuat
badan pemiliknya jadi samar / tidak kelihatan oleh musuh. Kata
“kudungono” dalam rapal mantera itu berarti menyelimuti seluruh tubuh.
Tidak hanya kepala saja yang tak kelihatan (menghilang) tapi seluruh
tubuhnya. Itu artinya penggunaan kata “kudung” dalam mantera Jawa
bermakna menyelimuti seluruh tubuh. Kudung dapat berupa kain, daun,
plastik atau jenis benda materi lainnya, tapi juga bisa berupa
nonmateri, seperti energi gaib, cahaya, sinar atau aura yang menyelimuti
tubuh.
Disini daya malaikat Jibril dihadirkan sebagai “kudung”
atau kerudung. Berangkat dari kisah Nabi Muhammad SAW suatu ketika
pernah terkena sihir dari Labid bin Al-A’sham dari Bani Zuraiq, sekutu
Yahudi. Kemudian malaikat Jibril hadir dan membacakan doa mantera
(merukyah) untuk melepas ikatan sihir tersebut. Dan akhirnya Nabi pun
selamat dari sihir itu. Jadi seolah-olah Nabi senantiasa mendapat
pengawalan gaib dari malaikat Jibril dalam dirinya (tentu dengan ijin
Allah SWT).
Dengan menyakini sepenuhnya bahwa daya Malaikat Jibril
juga akan menyatu menyelimuti (meng-kerudungi) pembaca ajian KULHU
ini, maka diri si pembaca atau pemilik ilmu Kulhu Sungsang ini juga
akan terlindungi / selamat dari sihir, santet, tenung dsb, sebagaimana
Nabi pernah selamat dari sihir dengan bantuan dari malaikat Jibril.
Kemudian
Nabi Muhammad sebagai nabi terakhir dihadirkan sebagai daya “teken”
(tongkat). “tekenku Nabi Muhammad… dst” Teken (tongkat) biasanya dipakai
oleh orang yang lanjut usia / lemah badannya, untuk menopang badannya
agar tidak ambruk demi kelangsungan hidupnya. Teken (tongkat) biasanya
juga dipakai oleh para jawara, orang sakti sebagai senjata atau pusaka.
Teken (tongkat) biasanya juga dipakai oleh para pejabat / raja
(tongkat Komando) sebagai penambah aura kewibawaan / meninggikan
derajat atau sebagai anugerah kehormatan dari Pangeran / Raja. Teken
(tongkat) biasanya juga dipakai oleh orang buta, sebagai penuntun
jalan.
Rapal “Tekenku Nabi Muhammad” bukan berarti Diri badan
Nabi dijadikan sebagai tongkat (teken), tetapi ajaran yg dibawa oleh
Nabi Muhammad SAW yang dijadikan sebagai tongkat penuntun jalan
(pedoman hidup) yang dapat meninggikan dejarat orang yang mengimaninya
sebagai salah satu anugerah dari Gusti Pangeran (Tuhan Yang Maha Kuasa)
sekaligus sebagai senjata melawan musuh (orang jahat/kafir), untuk
menopang kelangsungan hidup. Kemudian rapal mantera ditutup dengan
shalawat Nabi, sebagai bentuk rahmat (keselamatan).